3 Kebiasaan Sederhana agar Pengeluaran Mahasiswa Lebih Terkontrol
Menjadi mahasiswa bukan cuma soal mengatur jadwal kuliah, tugas, organisasi, dan kehidupan sosial.
Ada satu hal lain yang menurut saya mulai penting untuk dipelajari sejak sekarang: mengatur keuangan sendiri.
Pengeluaran mahasiswa sering kali terlihat kecil kalau dilihat satu per satu.
Rp15.000 untuk minum.
Rp20.000 untuk makan.
Rp10.000 untuk transportasi.
Belum lagi kebutuhan kuliah, paket data, langganan digital, nongkrong bersama teman, sampai berbagai pengeluaran kecil yang sering tidak terasa.
Masalahnya bukan selalu karena kita melakukan satu pembelian yang sangat mahal.
Sering kali uang justru habis karena terlalu banyak transaksi kecil yang tidak pernah kita perhatikan kembali.
Mengatur Keuangan Dimulai dari Mengetahui Uang Pergi ke Mana
Sebelum berbicara tentang QRIS, aplikasi pembayaran digital, cashback, promo, atau berbagai metode budgeting, ada satu prinsip sederhana yang menurut saya jauh lebih penting:
Kita akan kesulitan mengatur sesuatu yang tidak pernah kita ukur.
Karena itu, langkah pertama dalam mengatur pengeluaran tidak harus langsung menggunakan spreadsheet dengan puluhan formula atau aplikasi pencatat keuangan yang kompleks.
Mulai saja dengan melihat kembali transaksi yang sudah dilakukan.
Coba buka riwayat transaksi selama tujuh hari terakhir.
Berapa uang yang digunakan untuk makan?
Berapa untuk transportasi?
Berapa untuk nongkrong?
Dan berapa yang ternyata habis untuk pembelian kecil yang bahkan sudah kita lupakan?
Dari sana, kita mulai memiliki gambaran nyata mengenai pola pengeluaran sendiri.
Bukan berdasarkan perkiraan.
Tetapi berdasarkan transaksi yang benar-benar terjadi.
Kebiasaan 1: Jangan Hanya Membayar, Cek Lagi Transaksinya
Pembayaran digital membuat transaksi menjadi sangat praktis.
Kita cukup membuka aplikasi, scan QRIS, melakukan konfirmasi, dan pembayaran selesai.
Namun karena prosesnya sangat cepat, terkadang kita juga lebih mudah lupa bahwa uang baru saja keluar.
Itulah mengapa saya mulai melihat riwayat transaksi bukan sekadar sebagai daftar pembayaran.
Riwayat transaksi bisa menjadi sumber data sederhana untuk memahami kebiasaan kita sendiri.
Tidak perlu mengeceknya setiap hari.
Kita bisa membuat evaluasi sederhana satu kali setiap minggu.
Misalnya dengan membagi transaksi menjadi beberapa kategori.
Makanan dan minuman.
Transportasi.
Kebutuhan kuliah.
Nongkrong.
Belanja.
Hiburan.
Dan kebutuhan lainnya.
Setelah itu, coba lihat kategori mana yang paling besar.
Kadang hasilnya cukup mengejutkan.
Kita mungkin merasa jarang membeli sesuatu yang mahal, tetapi ternyata pengeluaran terbesar datang dari puluhan transaksi kecil.
Satu pertanyaan sederhana yang sekarang menurut saya cukup berguna adalah:
Pengeluaran terbesar saya minggu ini ada di mana?
Dari pertanyaan tersebut, kita bisa mulai menentukan apa yang perlu diperbaiki pada minggu berikutnya.
Kebiasaan 2: Belajar Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Ini mungkin terdengar sangat dasar.
Namun dalam praktiknya, membedakan kebutuhan dan keinginan tidak selalu mudah.
Apalagi ketika kita melihat flash sale, diskon, cashback, atau konten rekomendasi barang di media sosial.
Sesuatu yang awalnya tidak terpikirkan untuk dibeli tiba-tiba terasa seperti kebutuhan.
Karena itu, sebelum melakukan pembelian yang tidak mendesak, saya mencoba menggunakan beberapa pertanyaan sederhana.
Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?
Apakah saya tetap akan membeli produk tersebut kalau tidak sedang diskon?
Apakah pembelian ini akan mengganggu budget untuk kebutuhan lain?
Jika jawabannya masih meragukan, mungkin kita memang belum perlu membelinya.
Menunda pembelian beberapa jam bahkan satu hari juga bisa membantu.
Kadang setelah diberikan waktu, keinginan untuk membeli sesuatu ternyata hilang dengan sendirinya.
Ada satu prinsip yang menurut saya cukup relevan:
Gunakan promo untuk kebutuhan, bukan membuat kebutuhan karena ada promo.
Promo tentu bisa membantu kita menghemat.
Tetapi manfaatnya akan jauh lebih besar ketika digunakan untuk transaksi yang memang sudah direncanakan.
Kebiasaan 3: Buat Budget yang Bisa Benar-Benar Dijalankan
Budget tidak harus terlihat sempurna.
Yang lebih penting adalah apakah budget tersebut realistis untuk dijalankan.
Misalnya seorang mahasiswa membuat aturan:
“Bulan ini saya tidak boleh nongkrong sama sekali.”
Secara teori mungkin bisa.
Tetapi apakah aturan tersebut realistis dengan aktivitas sosial yang kita miliki?
Belum tentu.
Daripada membuat larangan yang terlalu ekstrem, menurut saya lebih baik memberikan batas.
Misalnya kita menentukan sejumlah uang tertentu untuk makan, transportasi, kebutuhan kuliah, hiburan, nongkrong, dan tabungan.
Jumlahnya tentu akan berbeda untuk setiap orang.
Mahasiswa yang tinggal bersama orang tua memiliki kebutuhan yang berbeda dengan mahasiswa yang tinggal di kos.
Mahasiswa yang memiliki pekerjaan sampingan juga mungkin memiliki kondisi berbeda dengan mahasiswa yang sepenuhnya bergantung pada uang bulanan.
Tidak ada satu angka budget yang cocok untuk semua orang.
Yang penting adalah kita mengetahui batasnya.
Misalnya kita sudah menentukan budget nongkrong untuk satu bulan.
Ketika memasuki minggu kedua dan sebagian besar budget tersebut sudah habis, kita mendapat sinyal bahwa pengeluaran perlu disesuaikan.
Di sinilah budgeting mulai berguna.
Bukan untuk melarang kita menikmati uang.
Tetapi untuk membantu kita menentukan prioritas.
Pembayaran Digital Seharusnya Membantu Kita Lebih Terorganisir
Saya melihat teknologi pembayaran digital sebagai tools.
Tools tersebut bisa membuat transaksi menjadi lebih praktis.
Tetapi tools tetap tidak bisa menggantikan keputusan finansial kita sendiri.
Dalam aktivitas sehari-hari, saya juga menggunakan ShopeePay sebagai salah satu metode pembayaran digital.
Salah satu keuntungan yang saya rasakan dari transaksi digital adalah aktivitas pembayaran lebih mudah ditelusuri kembali dibandingkan uang tunai.
Kita bisa membuka riwayat transaksi dan melihat apa saja yang sudah dibayar.
Informasi seperti ini bisa digunakan kembali untuk mengevaluasi pola pengeluaran.
Karena itu, saya mencoba menggunakan prinsip sederhana:
Budget dulu, baru transaksi.
Bukan transaksi dulu, lalu berharap budget masih cukup.
Bagi saya, cara berpikir tersebut lebih penting daripada sekadar memilih aplikasi pembayaran tertentu.
Tidak Semua Pengeluaran Harus Dihilangkan
Mengatur keuangan bukan berarti kita harus berhenti nongkrong.
Bukan berarti kita tidak boleh membeli kopi.
Dan bukan berarti semua bentuk hiburan adalah pemborosan.
Yang perlu diperhatikan adalah porsinya.
Kalau kebutuhan utama sudah terpenuhi, tabungan sudah dialokasikan, dan kita masih memiliki budget untuk menikmati sesuatu, tidak ada masalah.
Financial planning seharusnya membantu kita memiliki kontrol.
Bukan membuat kita merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang.
Karena pada akhirnya, uang memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus mendukung kualitas hidup.
Kuncinya adalah mengetahui batas.
Mulai dari Evaluasi Tujuh Hari Terakhir
Kalau ingin mulai mengatur pengeluaran, menurut saya tidak perlu langsung membuat target yang terlalu besar.
Mulai dari tujuh hari terakhir.
Buka riwayat transaksi.
Lihat semua pengeluaran yang sudah terjadi.
Kemudian kelompokkan secara sederhana.
Makanan.
Transportasi.
Kuliah.
Nongkrong.
Belanja.
Hiburan.
Lainnya.
Setelah itu tanyakan pada diri sendiri:
Kategori mana yang paling besar?
Apakah jumlahnya sesuai dengan yang saya bayangkan sebelumnya?
Dan apakah ada pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi?
Dari evaluasi kecil tersebut, kita sudah memiliki dasar untuk membuat budget minggu atau bulan berikutnya.
Ingin Mencoba ShopeePay?
Sebagai bagian dari perjalanan saya sebagai SPARK Student Ambassador 2026, saya juga membagikan referral ShopeePay untuk teman-teman yang belum menggunakan aplikasi ShopeePay dan ingin mencobanya.
Link referral saya:
https://pay.u.shopee.co.id/ENc5wbR
Kode referral:
6YQLVGXYU
Pastikan mengikuti proses pendaftaran yang tersedia di aplikasi serta membaca syarat dan ketentuan yang berlaku.
Link tersebut merupakan link referral saya sebagai SPARK Student Ambassador.
Keputusan untuk menggunakan suatu layanan finansial tetap sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Kesimpulan
Mengatur pengeluaran mahasiswa sebenarnya tidak harus dimulai dari sistem yang rumit.
Kita bisa mulai dari tiga kebiasaan sederhana.
Melihat kembali transaksi yang sudah dilakukan.
Belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.
Dan membuat budget yang realistis.
Setelah itu, teknologi pembayaran digital bisa digunakan sebagai alat pendukung untuk membuat proses tersebut menjadi lebih praktis.
Menurut saya, financial planning bukan tentang bagaimana kita berhenti menggunakan uang.
Financial planning adalah tentang bagaimana kita mengetahui ke mana uang pergi dan memastikan bahwa keputusan tersebut masih sesuai dengan prioritas kita.
Karena semakin cepat kita belajar mengelola uang sendiri, semakin baik pula kemampuan kita mengambil keputusan finansial di masa depan.
Kalau kamu mahasiswa, coba buka transaksi selama tujuh hari terakhir.
Pengeluaran terbesar kamu ternyata ada di kategori apa?
